Setelah usia menginjak setengah abad aku baru sadar,betapa aku gagal menjalani hidup sebagai seorang ayah.Disaat rambut dikepalaku sudah hampir 3/4 jadi putih aku baru tersentak betapa aku yang mestinya jadi panutan bagi istri dan anakku ternyata aku hanyalah peran yang kurang berarti dalam keluarga.
Dalam hal memenuhi kebutuhan materi,uang,harta kekayaan tidak begitu berarti untuk keluarga.Mungkin karena hal itulah yang menyebabkan tindakan dan ucapan,serta nasehat yang kuberikan pada anak-anakku tak mereka hiraukan.Setiap saat ku berikan nasehat agar rajin sholat,rajin kerjakan pekerjaan rumah,misalnya menyapu bersih-bersih sana sini tak dihiraukan.
Aku merasa frustasi,putus asa dengan diriku sendiri,putus asa dengan kondisi kesehatanku yang setiap saat terasa makin memburuk saja .
Apakah aku sudah salah asuh?
Apakah ucapan dan nasehat kita baru bisa berarti jika kita kaya dan bisa memenuhi kebutuhan materi mereka...?
Mungkin ya mungkin juga tidak.
Apakah tuntutan anak-anak sekarang memang harus dibiarkan begitu saja sebebas-bebasnya? Mau jadi apa kelak mereka?
Oh..kasihan jika masa depan mereka nanti jadi suram.Masa depan yang gagal .Baik masa depan di kehidupan nyata di dunia maupun di alam sana.
Kelak kemudian anak-anakku menyalahkanku,seraya berujar :"Dulu waktu aku kecil aku dibiarkan saja,tidak pernah diajarkan sholat,tidak pernah diajarkan tentang kebaikan dll dsb.."
Mudah-mudahan bisikan hatiku ini bukanlah kekhawatiran yang mendalam.
Aamiin....